share

Bisnis Turunan Keluarga

Gambar Mempunyai Hak Cipta

Jalan pagi sambil melihat kebun teh menjadi rutinitas yang selalu Randi lakukan. Menjadi tulang punggung keluarga mendadak terpaksa dia lakukan dan menghentikan kuliahnya. Ibu yang masih berduka ditinggal belahan jiwa dan adik yang masih sekolah semakin membuat Randi tidak punya pilihan selain melanjutkan usaha keluarga.

Membangun pabrik teh tidak semudah pelajaran di bangku kuliahan. Randi harus terjun langsung ke pasar dan melihat kebutuhan pasar. Menjadi pemilik, pemasar dan penimbang bahan dilakukan langsung oleh Randi. Siapa yang menyangka perusahaan yang dulu dibangun ayahnya justru berkembang dengan pesat di tangan Randi berkat pemikirannya yang terbuka dan tidak menentang perkembangan jaman.

Bagi Randi, mendengarkan jaman dan wanita itu menjadi kekuatannya. “ Kamu yakin membuat teh dalam gelas? Bukannya pesaing sudah memberikan secara gratis ke orang-orang? Bagaimana mungkin teh kita akan dibeli? “ Tanya istrinya dengan ragu. Keraguan istrinya itu justru dijawab dengan mantap. Teh dengan kemasan akan menjadi terobosan untuk produk kita. Tugas kita adalah membuat pasar paham bahwa teh dengan gelas pakai ulang tidak sehat. Bahwa teh dengan kemasan adalah gaya hidup.

Perusahaan yang berawal dari teh sekarang menjadi perusahaan yang bergerak di bidang makan dan minuman. Yang awalnya ditentang dengan membuat Tea Bar karena dirasa harga yang tinggi dan makanan yang kurang cocok di lidah Indonesia membuat Randi menutup dan mengubahnya. Menghindari kesalahan pertama, Randi rajin melakukan riset tentang budaya teh baik di dalam negeri bahkan ke luar negeri. Di Indonesia sendiri, teh menjadi minuman wajib ketika berkumpul dengan keluarga, selain itu biasa sambil makan cemilan yang Indonesia banget. Mendoan bahkan sarapan nasi goreng sering dilakukan bersama dengan minum teh.

Melihat kesalahan pertama, akhirnya Randi membuka Tea House. Dengan konsep sebagai tempat keluarga berkumpul, sambil makan dan minum teh. Tidak tanggung-tanggung, randi justru langsung membidik pasar menengah ke atas dengan membuka gerai di mall bukan bangunan berdiri sendiri.

Memilih mall sebagai tempat membuka tea house tentu bukan tanpa perhitungan, mall masih menjadi sarana destinasi keluarga untuk berlibur atau sekadar keluar rumah. Dengan trafik yang tinggi, Randi memperhitungkan jika 10 persen saja melihat tea house, tentu akan terbranding tentang bisnisnya.

Kesuksesan perusahaan teh yang merambah pada bidang makanan dan minuman tidak lepas dari campur tangan inovasi dari anak-anaknya. Ya anak-anak yang kuliah di luar negeri sehingga memudahkan Randi untuk mengadopsi cara pemasaran dan perkembangan bisnis terutama teh di luar negeri.

Membuka perusahaan turunan keluarga tidak selamanya mudah. Karena sifat Randi yang gampang percaya dan nggak tegaan, badai pertama muncul ketika salah satu cabang di Solo mengalami krisis karena penyalahgunaan dana oleh manager. Belum lagi masalah bahan pokok yang kualitasnya diturunkan demi mendapat keuntungan lebih. Semua masalah tersebut justru tidak membuat Randi patah arang melanjutkan bisnis, malah semakin memperketat dan memilih tim yang kompeten di bidangnya.

Semua air mata dan tawa memulai bisnis dan mengembangkannya semakin membuat Randi paham tentang semua seluk beluk  bisnis di bidang teh. Mempunyai tim yang seperti keluarga semakin menguatkan randi, dimana semua tim mempunyai rasa  memiliki yang tinggi terhadap perusahaan. Sikap Randi juga sangat mempengaruhi loyalitas tim terhadap perusahaan. Randi tidak mudah marah dan cenderung mendengar kenapa masalah sampai terjadi, sehingga tim akan segan membuat kesalahan dalam bekerja.

“ Apakah dengan bisnis yang sudah besar dan mempunyai sistem, anda sekarang hanya menikmati hasil? “ Tanya seorang reporter ketika wawancara Randi. Mempunyai segalanya yang dianggap orang sudah tersistem tidak membuat saya puas dan berhenti untuk mengembangkan bisnis, justru dengan sistem yang sudah ada, selanjutnya adalah memperbesar pasar dari perusahaan sendiri, aku Randi pada wartawan tersebut.

Perusahaan dan keluarga berbanding lurus bagi randi. Dengan berkembangnya bisnis, justru Randi merasa mempunyai tanggung jawab semakin besar pada keluarga. Karena besarnya bisnis tidak akan berguna tanpa dukungan keluarga. Keluarga adalah prioritas bagi Randi, pun juga dalam menjalankan perusahaan. Dari awal Randi sudah melibatkan anak-anak dalam menjalankan perusahaan.

Di usia yang sudah tidak muda, Randi sudah mulai mendelagikan perusahaan pada ketiga anaknya. 80 persen sudah ditangani oleh anaknya, dan sisanya ditangani sendiri. Target Randi 5 tahun ke depan dia akan melepas perusahaan untuk dikelola sepenuhnya oleh anaknya. Karena bagi Randi regenerasi perusahaan perlu dilakukan agar perusahaan tetap sesuai dengan permintaan jaman.

 

#ReadingChalengeODOP

 

share
Cari Lagi